Game of Thrones- 4×05 First of His Name Review

LONG MAY HE REIGN

game.of.thrones.s04e05.hdtv.x264-killers[15-04-44]

GAME OF THRONES 4X05 – FIRST OF HIS NAME

8.6/10

Episode ini diawali dengan penobatan Tommen Baratheon sebagai Raja di Westeros sepeninggal kakaknya Joffrey Baratheon, sesuai dengan line of succession di Westeros. Upacara penobatan Tommen disambut dengan meriah oleh para highborn di Westeros yang hadir, namun juga mengundang banyak pertanyaan dan kontroversi. Hal ini disebabkan oleh usia Tommen yang masih sangat muda, ditambah lagi rezim Joffrey yang memerintah secara kejam dan semena-mena. Terlepas dari itu semua, kita bisa melihat Tommen yang dengan percaya diri duduk di singgasana Iron Throne sebagai orang nomor satu di Westeros. Untuk mengutip Margaery Tyrell, “he sits the Throne like he was born to it.” Sejauh ini, Tommen memang ditampilkan sebagai bocah yang tidak tahu apa-apa soal politik dan intrik di King’s Landing, lebih lagi dalam hal berkuasa. Namun bisa jadi, Tommen akan menjadi Raja yang Westeros selama ini butuhkan setelah perang bertahun-tahun yang meninggalkan pil pahit bagi masyarakat Westeros.

game.of.thrones.s04e05.hdtv.x264-killers[15-31-52]

Sehabis itu, kita melihat Margaery berinteraksi dengan Cersei Lannister,ibunda dari Tommen (juga Queen Regent karena Tommen belum cukup usia). Disini kita melihat bahwa Cersei masih berkabung atas kematian putra pertamanya Joffrey, sedangkan Margaery diam-diam masih berambisi menjadi seorang Ratu. Di musim sebelumnya, sangat jelas bahwa Cersei membenci Margaery dan keluarga Tyrell serta menganggap mereka sebagai ancaman. Namun disini, Margaery dan Cersei ditampilkan sebagai dua orang wanita yang hampir bisa dibilang senasib sepenanggungan. Tetapi kita harus melihat adegan ini dari berbagai dimensi. Kalau dilihat hanya dari dialog mereka, kita dapat menilai bahwa Cersei, yang selama ini ambisius dan menganggap dirinya dan keluarganya terbaik dan paling berkuasa, rela menyerahkan tahtanya demi membantu Tommen, sampai menyarankan Margaery untuk menikahi Tommen. Sedangkan Margaery, gadis yang cerdik dan juga berambisi menjadi Ratu, terlihat kalut dan merasa dirinya tidak mampu menanggung beban yang harus dipikul seorang Ratu. Bertolak belakang dengan karakter mereka, bukan? Tetapi kita harus kembali ke sifat mereka yang sama-sama ingin berkuasa sebagai Ratu. Dalam situasi yang genting ini,  Margaery dan Cersei tidak mungkin terang-terangan dalam mengutarakan keinginan mereka. Mereka harus berhati-hati dan licik dalam mencapai tujuan mereka.  Dalam cerita Game of Thrones, hal ini tentu tidak asing. Margaery dan Cersei tahu posisi mereka masing-masing dan menurut saya adegan ini menjelaskan bahwa kedua wanita ini tidak boleh kita anggap remeh. Tetapi, terlepas dari ambisi Cersei untuk berkuasa, bagian akhir dari adegan ini juga mulai memperlihatkan sisi Cersei yang merasa terancam akan adanya Margaery (“I won’t even know what to call you. Sister? Or Mother?”). Dari ekspresi wajah Cersei terlihat bahwa ia merasa tidak nyaman akan adanya Margaery yang menurut ia akan mengambil darinya segalanya yang ia cintai, sama seperti ketika Margaery akan menikahi Joffrey(all thanks to Lena Headey’s stellar acting).

game.of.thrones.s04e05.hdtv.x264-killers[15-05-20]

Now, moving on to Daenerys Targaryen diseberang Narrow Sea! Dalam episode ini, Daenerys berdiskusi dengan para anggota Small Council miliknya, yaitu Ser Jorah Mormont, Ser Barristan Selmy, Daario Naharis, Grey Worm, dan Missandei. Mereka berdiskusi tentang situasi King’s Landing dan Westeros pada saat itu, berdasarkan kabar yang mereka terima. Mereka juga memperbincangkan tentang kesiapan mereka dalam conquest Daenerys ke Westeros yang selama ini merupakan tujuan dari storyline Dany di Game of Thrones. Dari perbincangan ini, jika dilihat dari persiapan Daenerys sudah memiliki tenaga dan modal yang cukup untuk melakukan conquest ke Westeros. Tetapi muncul masalah lain yang berkaitan dengan misi Daenerys untuk menghentikan perbudakan di Slaver’s Bay. Perbudakan yang sebelumnya sudah Daenerys hentikan ternyata telah berlanjut dan budak-budak yang sebelumnya dianggap telah dibebaskan oleh Dany kembali menjadi budak. Karena Dany merasa memiliki tanggung jawab terhadap mereka, Dany memutuskan untuk menunda hijrahnya ke Westeros dan memimpin selayaknya seorang Ratu. Disinilah kemampuan Dany sebagai seorang pemimpin diuji. Daenerys selama ini ditampilkan memiliki saviour complex. Kita tahu bahwa misinya dalam membebaskan para budak di Slaver’s Bay berasal dari sifatnya yang keibuan. Namun, bagaimana kemampuan dia dalam memimpin suatu masyarakat? Kita sudah pernah melihat Daenerys memimpin sebuah khalasar Dothraki dalam ukuran kecil, namun kita belum melihat seberapa cakap ia sebenarnya dalam memimpin dalam skala besar, dan bagaimana ia akan memimpin–apakah dengan kasih sayang, atau dengan memunculkan rasa takut dan segan pada masyarakat yang ia pimpin? Dari adegan ini saja,  walaupun Daenerys telah menghentikan perbudakan (or at least she thinks she has) kita bisa melihat bahwa permasalahannya tidak sesimpel itu. Tidak terbatas pada “Perbudakan buruk dan harus dihentikan.”, mengingat kondisi masyarakat pada saat itu. Daenerys menghukum para pemilik budak dengan tanpa ampun dengan alih-alih ia melakukannya untuk menegakkan keadilan, sehingga ia tidak bisa dibilang bahwa ia pemimpin yang lenient, terlepas dari sifatnya yang keibuan. Selain itu, seberapa jauhkah pengetahuan Dany akan wilayah yang akan ia pimpin? Di episode pertama, Dany ditunjukkan oleh Daario beberapa jenis bunga yang tumbuh di Meereen. Tetapi selain bunga, does Dany know the fundamental aspects of the people she leads? Hal ini bisa dikaitkan dengan tujuannya memimpin Westeros atas dasar Westeros adalah hak miliknya.  Jangan pula lupa bahwa Daenerys meskipun lahir di Westeros (Dragonstone) ia dibesarkan di berbagai wilayah di Essos dan ia hanya tahu soal Westeros dari kakaknya yang terbutakan oleh ambisinya sendiri. Seiring dengan bertambah dewasanya Daenerys, ia mengalami perkembangan yang sangat signifikan sebagai karakter. A huge theme of Daenerys’ character is her self discovery, sebagai seorang pemimpin dan juga sebagai seorang perempuan. Hubungan Daenerys dengan penasihatnya juga sangat penting, karena mereka banyak membantu Daenerys. Saya ingin sekali melihat sisi emosional Daenerys lebih diolah dan dibangun, karena pada akhirnya itulah yang akan menentukan apakah dia akan menjadi pemimpin yang baik atau tidak.

game.of.thrones.s04e05.hdtv.x264-killers[15-38-06]

Habis dari Meereen, kita terbang lagi ke Westeros, this time to The Vale with Petyr Baelish and Sansa Stark. To refresh your memory, Sansa dibawa kabur oleh Petyr dari King’s Landing setelah Purple Wedding dan di episode sebelumnya Petyr sudah mengatakan bahwa ia akan membawa Sansa ke The Vale, dimana Petyr akan menikahi Lysa Arryn, bibi dari Sansa Stark dan adik dari Catelyn Stark. Sansa, dalam pengawasan Petyr, berhati-hati agar tidak menunjukkan identitas dirinya sepenuhnya karena ia “buron” Iron Throne. Sansa diperkenalkan dengan alias “Alayne”, dan ia berpura-pura sebagai keponakan Petyr. Sesampainya di istana The Eyrie, kita kembali bertemu dengan Lysa Arryn dan putranya Robert “Sweetrobin” Arryn, setelah 2 season tanpa mereka berdua. Disini kita mempelajari bahwa Petyr and Lysa are no strangers to each other–they were lovers. Lysa terlihat sangat mabuk cinta kepada Petyr, dan between their heated kisses and Lysa pressing him to get married exactly that night…. Kita tahu bahwa Petyr dan Lysa adalah yang sebenarnya merencanakan pembunuhan Jon Arryn di awal episode, bukan para Lannisters seperti yang selama ini kita kira. And the plot thickens! Di Game of Thrones, selama ini kita memang mengenal Petyr sebagai politikus yang handal dan ia juga tidak ragu untuk bermain belakang dan mengkhianati orang-orang yang menganggap bahwa Petyr adalah teman mereka (need I remind you about Ned Stark?). Also to refresh your memory, Starks dan Lannisters sempat memperseterukan hal ini jadi benar-benar plot twist bahwa ternyata Petyr lah dalang dari semua ini. Makes us wonder, if he managed to pull that off, berapa lagi peristiwa politik yang ia set up dengan kelicikannya? Who knows. Next scene adalah pernikahan Lysa dengan Petyr, yang dilanjutkan dengan…. ah, sudahlah.

game.of.thrones.s04e05.hdtv.x264-killers[15-06-05]

# so done

Later on, we’re still in the Vale with Lysa and Sansa. Di adegan ini awalnya tampak Sansa sedang santai memakan lemon cakes favoritnya yang disuguhkan oleh Lysa. Adegan ini juga banyak membahas soal mendiang Catelyn Stark, and Lysa mused about how similar Catelyn and Sansa are. Tetapi lama kelamaan, adegan ini menjadi menegangkan akibat Lysa yang tiba-tiba membentak Sansa sampai menuduh dirinya telah dihamili oleh Petyr. Disini kita bisa melihat bahwa terdapat sibling rivalry yang intense antara Catelyn dan Lysa semasa gadisnya. Lysa iri akan Sansa karena Sansa adalah anak perempuan dari Catelyn yang dulu (atau bisa jadi masih) dicintai oleh Petyr Baelish. Adegan ini bisa dikaitkan dengan adegan Petyr dengan Lysa yang tadi, dan dari situ jelas Lysa mencintai Petyr dengan buta dan ia akan selalu menuruti keinginan Petyr. Sayangnya, Petyr mencintai Catelyn dan Petyr punya agenda lain selain urusan percintaan. Tragis, memang. Dari cara Lysa menuduh Sansa, it’s almost obvious that she is disturbed. Tetapi, menurut saya, Lysa adalah korban disini. Lysa juga dahulu seperti Sansa–mencintai seseorang dengan buta, hanya saja Lysa’s case is a worst case scenario. Apakah  Lysa nantinya akan menelan pil pahit akibat cintanya kepada Petyr? We’ll have to see.

game.of.thrones.s04e05.hdtv.x264-killers[15-36-47]

And now we slink back to King’s Landing with Cersei and Tywin Lannister. Disini Cersei dan Tywin berdiskusi tentang pernikahan Tommen dengan Margaery dan Cersei dengan Loras, serta situasi di King’s Landing. Mereka berbicara tentang pengaruh keluarga Tyrell bagi Iron Throne. Adegan ini semakin memperkuat betapa para Lannisters have a certain pride dimana mereka benar-benar menganggap diri mereka lebih superior ketimbang keluarga lain di Westeros, sampai mereka tidak memiliki rasa percaya kepada siapapun orang yang tidak bernama belakang Lannister. Meskipun begitu, mereka tidak memiliki pilihan karena with all their glory and throughout their apparent victory in the war, mereka banyak hutang kepada Iron Bank of Braavos akibat pertambangan emas di Westerlands yang habis akibat perang. Uang mereka habis karena perang dan mereka butuh bantuan Tyrells yang hartanya hampir menyamai Lannisters. So, the Lannisters have not won the war yet, have they? Another pivotal point of this scene is how Cersei very explicitly tries to solve the situation. Dia benar-benar ingin menjadi anak yang Tywin selama ini dambakan tetapi hal itu terbatasi oleh gender Cersei sebagai seorang wanita di zamannya. Cersei, no matter what, desires for power at all costs. I would like to take this moment to opine on Cersei Lannister. Tidak ada yang bilang Cersei orang yang baik. She is every inch an ambitious and cunning person, and not without any reason. Tetapi Cersei tidak selalu hidup dalam kemudahan. Sejak kecil, dia hidup dalam batasan yang dihadapi wanita di Westeros pada umumnya. Cersei selalu menginginkan lebih dari yang ia dapatkan. Inilah yang membuat Cersei salah satu karakter paling menarik di Game of Thrones, karena kita butuh karakter wanita di fiksi seperti Cersei. Kita butuh karakter seperti Cersei, ikon wanita yang tidak lemah dan membiarkan orang lain makes decisions for her, but takes agency for her actions dan menghadapi konsekuensi yang ia peroleh dengan dirinya sendiri pula.

game.of.thrones.s04e05.hdtv.x264-killers[15-30-10]

Don’t go yet, because we’re going to take a stroll around the King’s Landing garden with Oberyn Martell and Cersei. Oberyn dan Cersei saling berbagi tentang keluarganya masing-masing. Oberyn masih menyimpan rasa benci dan dendam akibat Elia Martell, kakaknya yang menurutnya dibunuh oleh Gregor “The Mountain” Clegane atas perintah Lannisters pada Sack of King’s Landing bertahun-tahun yang lalu. Cersei, on the other hand, masih berkabung atas kematian Joffrey. Walaupun Oberyn dengan keluarga Martells menganggap Lannisters adalah musuh mereka, Oberyn dan Cersei ditampilkan sebagai dua orang yang datang dari two opposing sides, mereka senasib sepenanggungan karena mereka kehilangan orang yang mereka sayangi. Cersei juga mengutarakan rasa rindunya kepada Myrcella Baratheon, putrinya yang dikirim ke Dorne pada season 2 Game of Thrones karena dijodohkan oleh Trystane Martell. Salah satu motivasi Cersei dalam menjalani hidupnya adalah ketiga anaknya. Disini tampak jelas sisi keibuan Cersei. Naturally, Cersei would of course, want to make sure her daughter is safe. Tetapi perlu diingat bahwa putra pertama Cersei tewas di pelukannya dan sudah terlihat dari beberapa episode sebelumnya Cersei menjadi paranoid akan keamanan anak-anaknya. “Everywhere in the world, they hurt little girls.”

game.of.thrones.s04e05.hdtv.x264-killers[15-07-35]

Getting bored of the political intrigue in King’s Landing? Yuk, lanjut jalan-jalan sama Sandor “The Hound” Clegane dan Arya Stark. Sejak musim sebelumnya, kita tahu Arya memiliki “Hit List”, karakter yang ia ingin bunuh/supaya mereka mati. Disini kita melihat Arya benar-benar terdorong oleh rasa benci dan balas dendam atas kematian ayah, ibu dan kakaknya. Ya, kita memang sepantasnya mendukung Arya. Tetapi kita harus ingat bahwa Arya adalah seorang anak yang menjadi victim of circumstances. Arya hidup seperti sekarang ini karena dia terpaksa. Tragis melihat seorang anak seperti Arya harus kehilangan innocence pada usianya.  Bahkan at this point, hampir bisa dibilang Arya is merely trying to survive dengan apa yang ia miliki. Later on, kita melihat Arya berlatih water dancing seperti yang diajarkan Syrio Forel di season 1. Akting Maisie Williams di adegan ini sangatlah apik dan patut diacungi jempol. Sayangnya… Sandor/The Hound is being an asshole, again. Meskipun Sandor dan Arya are not even close to reaching an easy truce, adegan ini menunjukkan bahwa Arya wouldn’t have made it this far without Sandor. Adegan Arya dan Sandor sejak episode 1 di season 4 cenderung lemah dan slow paced menurut saya, tetapi we’ll pick up soon enough.

game.of.thrones.s04e05.hdtv.x264-killers[15-31-26]

Kita masih jalan-jalan keliling Westeros, but this time dengan duo yang baru–Brienne of Tarth dan Podrick Payne. Another memory refresher, di “Oathkeeper” Jaime Lannister menugaskan Brienne untuk mencari Sansa dengan Podrick sebagai squire untuk Brienne. Pod tampak sangat kikuk karena ia tidak bisa menunggangi kuda dengan benar, dan tidak tahu benar bagaimana menjadi squire yang baik, namun Pod mulai menaruh rasa hormat kepada Brienne, sampai menganggap Brienne adalah prajurit yang asli meskipun Brienne adalah seorang perempuan dan ia tidak memiliki title “Ser”. Brienne awalnya terganggu akan adanya Podrick, karena ia menganggap Pod menghalangi dan memperlambat kerjanya. Namun, Podrick bercerita tentang saat dia membunuh seorang anggota Kingsguard demi Tyrion Lannister, tuannya pada waktu itu. Bisa dilihat bahwa terlepas dari kemampuan Pod yang terbatas, ia sangatlah setia. Seperti layaknya Brienne, yang sebelumnya menjadi Kingsguard untuk Renly Baratheon dan sepeninggalnya ditugaskan oleh Catelyn Stark untuk membawa anak-anak Catelyn kembali kepadanya, dan setelah Catelyn meninggal pun Brienne tetap melanjutkan tugas itu bersama Podrick. Brienne juga selama ini diremehkan dan dicemooh oleh masyarakat di Westeros karena Brienne tidak konformis terhadap standar atau norma bagi wanita di Westeros. Brienne realised, that both she and Podrick puts honour and duty above all else. Akhirnya, Brienne pun melunak dan menugaskan Podrick sesuai dengan tugas squire yang sesungguhnya.

game.of.thrones.s04e05.hdtv.x264-killers[15-32-55]

Now, put on some warm clothing with thick layers as we move to the cold of the North. Walaupun dingin, tetapi situasi makin memanas dengan Bran Stark, Jojen Reed, Meera Reed, dan Hodor yang masih ditahan di Craster’s Keep. Untuk menyelamatkan diri mereka, Bran “wargs” ketubuh Hodor dan membunuh Locke. Masih di Craster’s Keep, Jon Snow dan beberapa anggota Night’s Watch hendak melakukan tugas. Setelah Bran menyelamatkan dirinya, Bran melihat Jon melawan para outlaws di Craster’s Keep. Meskipun Bran mencoba untuk menghampiri kakaknya, Bran dicegah oleh Jojen karena tujuan mereka adalah untuk mencari three eyed raven. Ya, memang Starks memang tidak ditakdirkan untuk bersatu ya… Adegan di the North menyediakan sisi fantasy dan action di Game of Thrones, seperti Jojen yang bisa melihat masa depan Karl dan tentunya perlawanan Jon dan anggota Night’s Watch lainnya terhadap outlaws di Craster’s Keep. Akhirnya, kita melihat anak dan istri Craster diselamatkan oleh Night’s Watch dan Craster’s Keep pun dibakar. Menurut saya, adegan di the North ini as much of a filler as it is a conclusion. Di satu sisi, walaupun Bran dan teman-temannya di Craster’s Keep  diperlakukan dengan tidak pantas (apalagi Meera yang hampir diperkosa oleh Karl), keseluruhan dari cerita ini memperpanjang dan menambahkan sisi action dari cerita Bran yang kaya akan unsur fantasi. Episode ini juga menunjukkan kepemimpinan Jon Snow dan kepercayaan para anggota Night’s Watch terhadapnya, dan menutup keseluruhan cerita di Craster’s Keep.

game.of.thrones.s04e05.hdtv.x264-killers[15-11-56]

TL;DR

Game of Thrones – First of His Name menawarkan interaksi antar karakter yang menghibur dan dinamis serta bertujuan untuk menekankan watak dan motivasi masing-masing karakter secara apik. Memang ada titik lemah dari episode ini terutama dari interaksi Arya dengan Sandor, tetapi satu-satunya masalah dengan mereka adalah lambatnya pacing dari storyline mereka, meskipun begitu adegan mereka di episode ini cukup menghibur. Episode ini memang tidak menyediakan action dalam skala sebesar episode sebelumnya, tetapi action yang disediakan episode ini dipresentasikan secara cakap dan served as a conclusion for the storyline.

Note : Review ini ditulis oleh member Series addict indonesia dan bukan oleh Admin

Nadya Trinova Loebis

Twitter: @NadyaLoebis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s